Home > Umum > Keringat Berlebih pada Bayi

Keringat Berlebih pada Bayi

12 September 2009

Keringat yang keluar berlebih kerap bikin masalah. Selain menimbulkan bau badan, kelebihan keringat juga dapat menandakan gejala penyakit serius. Jangan sepelekan, karena bisa mengancam keselamatan jiwa.

Perlu diketahui, keringat diproduksi oleh kelenjar keringat atau kelenjar sebacea. Letaknya berada di jaringan bawah kulit. Kelenjar keringat memproduksi cairan keringat atas perintah sususan syaraf otonom.

“Sususan syaraf otonom bekerja tanpa kesadaran manusia. Sama seperti detak jantung, gerak usus, gerak napas, serta keadaan ingin buang air kecil atau besar,” papar Dr. Imran Nito, SpPD dari di RS Omni Medical Center (Ongkomulyo), Pulomas, Jakarta Timur.

Kelenjar keringat yang dipengaruhi sususan syaraf otonom ini, lanjut Imran, bersifat unik. Sebab dapat mempengaruhi kelenjar keringat yang bukan berada di daerah umum, melainkan di daerah-daerah khusus.

“Misalnya, pada orang yang gugup atau ketakutan, telapak tangannya basah karena keringat, sementara badannya tidak. Namun, bagi orang normal, jika berolahraga badannya yang akan berkeringat, tetapi telapak tangannya kering tidak berkeringat. Ini yang membedakan kelenjar-kelenjar keringatnya.”

Keringat yang keluar dari tubuh, selain dipengaruhi susunan syaraf otonom, juga dipengaruhi susunan syaraf metabolik. Pada sebagian orang, justru komponen metabolik tubuhnya yang memengaruhi kelenjar keringatnya, yang memacu keringat diproduksi lebih cepat dan banyak. Kelainan metabolisme ini salah satunya adalah kelebihan hormon tiroid atau hipertiroid.

PENYEBAB BAU BADAN
Kelenjar keringat yang memproduksi komponen air keringat ini, kata Imran, dipengaruhi faktor hormonal. Sehingga, ada sebagian orang yang memiliki komponen minyak atau lemak pada cairan keringatnya lebih banyak dibandingkan dengan yang lainnya.

Ketika cairan keringat keluar dari tubuh dan muncul di permukaan kulit, akan dicerna oleh bakteri atau mikroorganisma yang hidup secara saprofit atau parasit (menumpang) di permukaan kulit. Cairan keringat ini lalu teroksidasi dan terfermentasi oleh bakteri.

Hal inilah yang membuat keringat menjadi berbau setelah keluar dari tubuh. Kondisi ini biasa disebut dengan bau badan (BB). Padahal, pada awal keluarnya, cairan keringat berwarna bening dan tidak berbau. “Seperti makanan, jika sudah terkena bakteri ia akan terfermentasi dan berubah menjadi basi dan berbau busuk.”

Pada beberapa orang yang memiliki material lemak yang banyak di dalam keringatnya, ketika keluar di daerah-daerah yang lembap lalu dicerna oleh bakteri, bau keringatnya akan menjadi lebih menyengat dibandingkan orang yang material lemak keringatnya tidak terlalu banyak atau normal.

Oleh karena itu, pada orang normal bakteri yang ada di permukaan kulitnya tidak akan terlalu banyak mencerna cairan keringat yang keluar. “Jadi, bau keringat pada orang yang komponen lemak keringatnya normal, akan tercium samar-samar atau tipis saja,” kata Imran.

Keringat paling banyak keluar di daerah kepala dan punggung. Namun, keringat di kepala dan punggung tidak berbau karena berada di daerah yang lebih terbuka, sehingga lebih cepat kering.

Lain halnya dengan keringat yang keluar di daerah lembap, seperti ketiak, lipatan paha, lipat payudara, atau perut yang posisinya tersembunyi. Bau keringat di daerah ini sukar untuk lepas karena air keringatnya terbendung dan sulit untuk cepat kering.

Menurut Imran, Indonesia sebagai negera tropis, tingkat kelembapannya cukup tinggi. Tidak seperti di Timur Tengah yang panas namun kering. Sehingga, iklim yang lembap bisa mengakibatkan keringat terasa lebih berbau.

Jadi, bagaimana cara mengatasi bau keringat yang tidak enak? Menurut Imran, cara menanggulanginya bisa dengan mengurangi jumlah bakteri yang ada di permukaan kulit orang yang memiliki komponen lemak lebih banyak. Dapat juga dengan mempersingkat proses oksidasi atau fermentasi oleh bakteri di kulit. Misalnya dengan menggunakan deodoran.

Namun, lanjut Imran, ada beberapa orang yang memang memiliki bakat memproduksi lemak keringat lebih banyak. Sama halnya seperti orang yang berambut keriting, kulit wajah berminyak atau kering. Sehingga, tak dapat dibantu hanya dengan deodoran saja. Ia harus menanamkan kesadaran pada dirinya untuk lebih menjaga kebersihkan tubuh.

“Misalnya, lebih sering membersihkan ketiaknya saat berkeringat dengan sabun atau tisu, jangan memakai baju ketat, dan hindari berat badan berlebih. Gunakan baju yang longgar agar keringat di tubuh cepat menguap dan kering.”

Untuk menghindari banyaknya bakteri di daerah yang lembap, Imran pun tidak melarang orang mencukur bulu ketiaknya. Bulu ketiak berfungsi menangkap keringat yang dapat mengakibatkan bau. Oleh karena itu, mencukur bulu ketiak dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi bau keringat.

BISA DEHIDRASI
Meski demikian, faktor bawaan pada seseorang yang memproduksi lemak berlebih di dalam keringatnya, dapat berubah seiring penambahan usia. Pada orang yang sudah berusia lanjut, kondisi kulit, kelenjar keringat, dan komponen lemak keringatnya berbeda dengan orang usia muda.

Orang muda, tutur Imran, kulitnya masih bersifat lembap, cenderung berminyak dan kencang. Setelah tua, kulit berubah menjadi lebih kering dan keriput. Akibat perubahan umur ini kelenjar keringat ikut menciut dan fungsinya jauh berkurang.

Kondisi yang berbeda ini membawa konsekuensi berbeda saat keringat keluar dari tubuh. Kelenjar keringat yang masih aktif pada orang usia muda, jika terlalu banyak memproduksi cairan keringat akan mengakibatkan kekurangan cairan atau dehidrasi.

“Misalnya, pada orang yang banyak beraktivitas di luar ruang atau berolah raga, tentu akan mengeluarkan banyak keringat. Keringat yang keluar dari tubuh terlalu banyak tak cuma mengakibatkan dehidarasi, tetapi tubuh juga akan kekurangan mineral,” terang Imran.

Agar tak sampai mengalami dehidrasi, kata Imran, harus diketahui berapa volume air yang keluar setiap harinya dari dalam tubuh. Sebaliknya, tubuh harus menyimpan sejumlah cairan di dalam tubuh agar tidak kehilangan cairan dan mineral.

Volume cairan yang dikeluarkan tubuh atau IWL (insensible water loss) pada lingkungan yang normal sekitar 2500-3000 cc per hari. Cairan itu keluar melalui keringat, udara yang keluar bersama napas, air seni, dan feses.

Misalnya, cairan tubuh keluar dari keringat 500 cc, air seni sekitar 50 cc (menghitung jumlah air seni yang keluar = 1cc x berat badan/ kilogram), feses 300cc. Setelah dijumlahkan, dalam sehari orang normal bisa mengeluarkan cairan sekitar 2500 cc sampai 3000cc per hari.

Variasi manusia dalam mengeluarkan keringat dari dalam tubuhnya berkisar 600-700 cc. Namun, bagi pekerja kasar atau olah ragawan, keringat yang keluar dari tubuhnya bisa lebih dari ½ liter per hari. Bagi pekerja kantoran atau ibu rumah tangga, kira-kira ½ liter atau 500 cc.

Jumlah ideal air yang harus dikonsumsi tubuh, harus disesuaikan dengan cairan yang keluar. Oleh sebab itu, perbanyaklah minum, makan buah atau jus, serta mengonsumsi makanan yang mengandung air atau berkuah, seperti soto dan sup.

WASPADAI KERINGAT BERLEBIH
Apakah keringat berlebih bisa mengindikasikan penyakit yang lebih serius? Menurut Imran, ada beberapa penyakit yang ditandai dengan keluarnya keringat yang berlebih.

Misalnya hipertiroid, yaitu peningkatan dari hormon tiroid di dalam darah. Gejala yang dirasakan antara lain jari tangan gemetar, lemas, jantung berdebar, berkeringat banyak meski berada di suhu yang dingin, badan semakin kurus meski makan dalam jumlah banyak. “Pada hipertiroid stadium lanjut, dapat disetai diare terus menerus hingga menyebabkan dehidrasi. Bahkan, di daerah leher terkadang disertai dengan pembesaran kelenjar gondok.”

Pengobatan yang diberikan bagi penderita hipertiroid adalah dengan menurunkan secara cepat kadar hormon tiroid dalam darahnya dengan obat anti tiroid. “Yang patut diwaspasdai, komplikasi dari hipertiroid pada stadium lanjut dapat mengancam jiwa. Sehingga, pada gejala yang berat harus dirawat di rumah sakit.”

Selain hipertiroid, penyakit kencing manis pun bisa mengakibatkan kekacauan dalam memerintahkan susunan syaraf otonom. Sehingga, di saat kondisi tubuhnya tidak harus dalam keadaan berkeringat, kelenjar keringatnya malah memproduksi banyak keringat.”

TIPS BEBAS BAU BADAN
1. Rajin membersihkan keringat. Keringkan segera daerah-daerah lembap yang berkeringat dengan tisu, terutama jika memiliki ‘bakat’ banyak keringat.
2. Jaga berat badan. Bagi yang memiliki tubuh gemuk, kurangi berat badan.
3. Jaga asupan makanan. Faktor makanan jelas mempengaruhi bau keringat. Mengonsumsi makanan berlemak dapat menstimulasi produksi lemak keringat menjadi lebih banyak, misalnya, keju, mentega, steik. Namun, bawang ternyata tidak mengakibatkan bau badan.
(http://www.anakku.net)

About these ads
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: